Ketakutan vs Kekuatan
Dua hari menjelang jambore. Aku pun mulai menyiapkan barang-barang yang akan dibutuhkan selama acara nanti. Di pikiranku terbayang berbagai hal tidak menyenangkan yang mungkin terjadi selama di Gunung Puntang.
Aku memiliki pengalaman buruk pada jambore yang terakhir kali kuikuti, yakni saat aku duduk di kelas 2 SMP. Saat itu aku terpakasa mengikutinya karena saat kelas 1 SMP belum ikut. Di jambore itu aku seregu dengan pramuka inti, teman-teman yang semuanya bukan teman sepermainanku selama di sekolah. Alhasil, aku merasa sangat terasing dan tidak enak. Selama di Cibubur itu pun aku akhirnya hanya bermalas-malasan di tenda dan tidak mengikuti acara sama sekali kecuali halang rintang, itupun dengan dispensasi disana-sini. Karena sikapku itu juga aku mendapat tuduhan memakan jatah ayam goreng McD -yang dipesan malam-malam oleh pramuka inti karena gagal memasak nasi- lebih dari satu, padahal sama sekali tidak benar. Aku pun pulang ke rumah dengan keadaan lelah fisik dan mental serta tambahan cap ‘pemalas’ dari pramuka inti. Tubuhku panas dan keesokan harinya tidak dapat masuk sekolah.
Berangkat dari pengalaman tersebut, aku menjadi trauma ringan dengan kegiatan jambore. Sempat terlintas di benakku untuk menghindar dari kegiatan jambore yang akan berlangsung ini. Apakah aku akan berpura-pura sakit saja? Toh kalau aku memang sakit seperti di kelas 1 SMA dulu aku bisa mendapat dispensasi. Tapi kenyataannya aku tidak sakit apa-apa. Masakah aku harus menyakiti diri sendiri? Lagipula bukan sebuah tindakan yang bijak untuk lari dari ketakutan.
Sehari menjelang jambore. Aku memberanikan diri untuk mengikuti jambore. Kupikir juga sudah terlambat untuk berhenti di tengah jalan setelah mempersiapkan hampir semua peralatan. Dengan berpikiran positif bahwa hal tersebut tidak akan terulang lagi, aku pun membulatkan tekadku, bahwa ketakutan ini harus dilawan, bukan dihindari.
Hari pertama jambore. Aku mulai mencoba menghindari hal-hal yang membuat kondisi seperti SMP dulu terulang lagi. Setibanya di sekolah, aku mulai berusaha mengenal anggota reguku yang separuhnya terdiri dari anak kelas 1 dan 2 yang tidak kukenal sama sekali. Aku tidak mau merasa terasing lagi. Sesampai di Gunung Puntang, aku langsung mencoba aktif iktu mendirikan tenda, mengambil air untuk memasak, dan apapun yang bisa kulakukan, agar aku tidak lagi dianggap sebagai ‘pemalas’. Semua berjalan dengan lancar sampai pada waktu jurit malam. Aku merasa sempoyongan karena baru bangun tidur, gelapnya malam pun membuat jalan yang hanya diterangi lampu senter tidak terlihat dengan jelas, jalur-jalur pendakian licin karena baru saja terguyur hujan, ditambah lagi sol sepatuku hampir terlepas sebelah, sehingga seringkali aku terserimpet sepatuku sendiri. Dengan susah payah aku mendaki. Kakiku mulai terasa perih-perih semua, tapi aku ingat kejadian dulu, dan aku bertekad, aku tidak akan meminta dispensasi! Aku melanjutkan perjalananku dengan kesadaran setengah, sampai ketika hampir tiba di tenda, sebuah pengumuman ‘Ada regu hilang!’ memulihkan kesadaranku kembali. Setelah kelompok yang hilang ditemukan, regu kami pun kembali ke tenda dengan berlepotan lumpur dimana-mana. Setelah makan pop mie sebentar, kami pun kembali tidur.
Hari kedua jambore. Aku bangun dengan rasa sakit disana-sini akibat tidur di atas tumpukan tas dan jurit malam. Aku mulai ragu untuk dapat mengikuti pendakian lagi yang menurut pengalaman orang yang sudah pernah mengikuti jambore dua tahun lalu, lebih berat dari jurit malam. Bagaimana mungkin dengan kondisi fisik seperti itu dan bersepatu yang kedua solnya menganga lebar? Aku mencoba menenangkan diri dengan berpikir bahwa jalanan telah kering dan sinar matahari yang menerangi permukaan tanah akan memudahkan perjalanan hiking.
Siang harinya, ketika sedang menunggu giliran hiking, tiba-tiba hujan deras kembali turun. Kami pun berlindung di tenda masing-masing. Saking derasnya, kami semua menganggap bahwa hiking pasti dibatalkan karena jalur tidak mungkin bisa dilalui. Setelah lama berlindung di tenda yang perlahan-lahan mulai bocor, hujan pun berhenti. Kami pun makan siang di tenda dengan tenang. Tapi selagi kami asyik menikmati nasi bihun tahu tempe ayam, tiba-tiba terdengar pengumuman, “Kelompok tiga harap segera berkumpul di pleton guru untuk bersiap-siap melakukan hiking!” Waduh, sekarang ditambah jalanan yang pasti sangat licin, pikirku.
Dengan perasaan sedikit cemas, aku pun berkumpul di dekat pleton guru bersama anggota regu yang lain, serta kelompok 4 dan 5 yang juga digabung bersama kelompok kami. Setelah menunggu semua anggota kelompok berkumpul, kami memulai hiking jalur gunung. Seusai melewati banyak jalanan yang sangat melelahkan, kami berhasil sampai ke perkemahan kembali dengan keadaan basah kuyup terguyur hujan yang tiba-tiba datang ketika kami hampir sampai.
Fuhh.. lega, akhirnya selesai juga, pikirku. Aku mulai mencoba membersihkan sepatuku di parit kecil ketika tiba-tiba kami dipanggil lagi untuk menempuh jalur hiking sungai. Astaga! Kukira jalur sungai sudah dibatalkan. Aku tidak tahu apakah aku masih kuat, namun aku sampai juga pada pos dimana semua peserta harus mandi di sungai. Ya sudahlah, paling juga beku, pikirku pasrah. Namun, setelah dimandikan dengan air yang ekstra dingin, ternyata aku malah segar kembali. Aku melanjutkan perjalanan dengan cukup bersemangat dan akhirnya tiba di tenda kembali. MCK penuh, sehingga aku memutuskan untuk mandi di sungai, sementara matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat. Pasti lebih dingin lagi, pikirku. Benar saja, kakiku sempat kram, dan aku tidak tahu bagaimana caranya kembali ke tenda sejauh itu. Namun ternyata aku bisa, dan anehnya, aku tidak merasa sakit demam ataupun tidak enak badan sama sekali. Sekembalinya ke tenda, aku masih sempat membuat lagu medley bersama teman-teman seregu untuk acara api unggun. Acara api unggun pun berlangsung meriah, dan hari itu aku tidur di luar tenda menggunakan sleeping bag bersama teman-teman regu lain karena tendaku sudah penuh dengan lumpur. Karena itu juga aku betah berlama-lama jongkok di pintu tenda untuk mencari barang-barang di ranselku, sampai beberapa teman protes karena menghalangi orang yang mau keluar masuk tenda.
Hari ketiga jambore. Aku bangun pagi dengan perasaan lebih senang dan enak daripada hari-hari sebelumnya. Ditambah perasaan bangga karena berhasil mengikuti semua kegiatan dengan baik tanpa dispensasi. Setelah beres-beres dalam waktu yang cukup lama, dan dijemur selama upacara penutupan, kami pun bersiap-siap pulang. Kami pun tiba kembali di sekolah dengan selamat kira-kira pukul setengah lima sore.
Selesai! Aku berhasil menaklukkan ketakutan yang selama ini menjadi sesuatu yang tidak mengenakkan. Sesuatu yang benar-benar tak terduga. Aku padahal hanya mengharapkan bisa kembali pulang dengan selamat, dalam kondisi fisik apapun. Toh, kalau sakit, aku bisa beristirahat dua hari, pikirku. Namun aku merasa sehat walafiat dan aku hampir tidak bisa mempercayainya. Sesampainya di rumah, aku merogoh isi kantongku dan aku menemukan rosario milikku, yang sedari jurit malam tidak pernah kukeluarkan. Percaya atau tidak, itulah kekuatan dari Tuhan, dan bagiku, itu sungguh luar biasa!
Sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Sebuah momen dimana aku bisa mengalahkan ketakutanku dengan kekuatan. Mungkin itulah tindakan yang paling baik untuk mengatasi ketakutan, yaitu bukan lari darinya, bukan menganggapnya tidak ada, namun menghadapinya dengan kekuatan, keberanian, dan terutama, keyakinan. Facing fear with force.